OZ News
Anak Krakatau Kembali Erupsi
Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada 24 Agustus 2026 dengan kolom abu 250 meter, setelah tercatat 20 kali erupsi dalam sehari pada 17 Agustus.

Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, kembali mengalami erupsi pada Senin, 24 Agustus 2026. Erupsi terjadi pada pagi hari dan mengeluarkan kolom abu vulkanik yang membumbung hingga sekitar 250 meter di atas puncak gunung. Erupsi tersebut terjadi pada pukul 09.41 WIB dan berlangsung sekitar satu menit 17 detik. Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau karena kondisi gunung masih menunjukkan aktivitas vulkanik yang berubah-ubah.
Saat erupsi terjadi, kolom abu terlihat membumbung hingga 250 meter di atas puncak atau sekitar 407 meter di atas permukaan laut. Erupsi tersebut juga terekam oleh alat pemantauan kegempaan dengan amplitudo maksimum 52 milimeter. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau masih perlu mendapat perhatian. Pemantauan dilakukan secara terus-menerus untuk mengetahui perkembangan aktivitas gunung dan mengantisipasi kemungkinan erupsi berikutnya.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau sebenarnya sudah meningkat beberapa hari sebelumnya. Pada 17 Agustus 2026, gunung api tersebut tercatat mengalami 20 kali erupsi dalam satu hari. Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Lampung Selatan, mengatakan aktivitas gunung masih bersifat fluktuatif. Karena itu, pengamatan dilakukan selama 24 jam melalui pemantauan secara visual dan menggunakan alat untuk melihat perkembangan aktivitas vulkanik. Dalam rangkaian erupsi pada 17 Agustus tersebut, letusan tertinggi mencapai sekitar 400 meter di atas puncak. Abu vulkanik yang terbawa angin juga dilaporkan berdampak ke wilayah sekitar Gunung Anak Krakatau, termasuk Pulau Sebesi.
Aktivitas Gunung Masih Fluktuatif
Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih dapat berubah sewaktu-waktu. Setelah 20 kali erupsi pada 17 Agustus, gunung tersebut kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada hari-hari berikutnya. Pada 22 Agustus, misalnya, PVMBG mencatat sembilan kali letusan dengan tinggi erupsi sekitar 200 hingga 400 meter. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa potensi erupsi susulan masih dapat terjadi. Karena aktivitas yang masih fluktuatif, masyarakat dan petugas terus melakukan pemantauan. Informasi mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau juga penting agar masyarakat dapat mengambil langkah yang tepat jika terjadi peningkatan aktivitas.
Masyarakat dan pengunjung diminta untuk tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi melalui PVMBG. Masyarakat juga tidak diperbolehkan mendekati kawah aktif dalam radius tiga kilometer. Imbauan tersebut diberikan untuk mengurangi risiko jika terjadi erupsi secara tiba-tiba. Masyarakat di sekitar Selat Sunda juga diharapkan tidak panik, tetapi tetap memperhatikan informasi dan arahan dari petugas.
Pemantauan Dilakukan Selama 24 Jam
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif sehingga aktivitasnya harus terus dipantau. Petugas di pos pengamatan melakukan pemantauan secara visual dan menggunakan peralatan khusus untuk mengetahui perubahan aktivitas vulkanik. Erupsi yang kembali terjadi pada 24 Agustus menjadi pengingat bahwa masyarakat perlu tetap waspada. Dengan pemantauan yang dilakukan secara terus-menerus dan kepatuhan terhadap aturan keselamatan, risiko akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat diminimalkan.
Foto: CCTV PVMBG · Sumber: ANTARA
