Skip to content
OZ News

OZ News

Indonesia Diguncang Erupsi

Gunung Sinabung, Semeru, Ibu, dan Anak Krakatau erupsi hampir bersamaan, dengan status Sinabung dan Anak Krakatau naik ke Level III atau Siaga.

Kolom abu dan awan panas erupsi Gunung Sinabung
Kolom abu dan awan panas erupsi Gunung Sinabung

Aktivitas gunung api di sejumlah wilayah Indonesia kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir. Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ibu di Maluku Utara, dan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi dengan kondisi yang berbeda-beda.

Erupsi tersebut mengeluarkan abu vulkanik hingga awan panas. Masyarakat di sekitar gunung maupun wilayah yang terdampak abu diminta tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah.

Gunung Sinabung Erupsi dan Status Naik Menjadi Siaga

Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026 sekitar pukul 10.17 WIB. Saat erupsi terjadi, kolom abu terlihat mencapai sekitar 3.500 meter atau 3,5 kilometer di atas puncak gunung.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menyebut erupsi tersebut menghasilkan getaran dengan amplitudo maksimum 120 mm. Aktivitas erupsi berlangsung sekitar 1 jam 1 menit 48 detik.

Selain abu vulkanik, erupsi juga menyebabkan awan panas meluncur hingga sekitar 3 kilometer dari puncak. Kondisi ini membuat masyarakat di sekitar kawasan Gunung Sinabung perlu meningkatkan kewaspadaan.

Setelah aktivitas vulkanik meningkat, status Gunung Sinabung dinaikkan dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari puncak. Beberapa wilayah di bagian selatan hingga tenggara juga harus dihindari hingga jarak 4,5 kilometer.

Warga yang tinggal di sekitar sungai yang berhulu di Gunung Sinabung juga diminta waspada terhadap kemungkinan terjadinya banjir lahar dingin. Masyarakat di wilayah terdampak abu juga dianjurkan menggunakan masker saat berada di luar rumah.

Gunung Semeru Kembali Erupsi

Sementara itu, Gunung Semeru di Jawa Timur juga mengalami erupsi pada Minggu, 6 September 2026 pukul 07.51 WIB. Kolom abu terlihat mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak gunung.

Erupsi tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 23 mm dan berlangsung selama 102 detik. Kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah timur.

Petugas mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak. Warga juga diminta menjauh dari sempadan sungai karena wilayah tersebut berpotensi terkena perluasan awan panas dan aliran lahar.

Selain itu, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah karena masih ada risiko lontaran batu pijar.

Gunung Ibu di Maluku Utara Juga Erupsi

Gunung Ibu yang berada di Pulau Halmahera, Maluku Utara, juga mengalami erupsi pada Minggu malam, 6 September 2026. Erupsi terjadi sekitar pukul 22.48 WIT dengan kolom abu mencapai sekitar 500 meter di atas puncak.

Erupsi tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 28 mm dan berlangsung sekitar 38 detik saat laporan dibuat. Kolom abu berwarna putih hingga kelabu dan bergerak ke arah utara serta timur laut. Gunung Ibu saat ini masih berstatus Level II atau Waspada.

Masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari Gunung Ibu. Ada juga perluasan wilayah yang harus dihindari hingga 3,5 kilometer ke arah bukaan kawah di bagian utara. Jika terjadi hujan abu, warga dianjurkan memakai masker dan pelindung mata.

Anak Krakatau Erupsi, Abu Menyebar ke Sejumlah Wilayah

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda juga mengalami peningkatan aktivitas. Gunung tersebut saat ini berada pada Level III atau Siaga. Kapal yang melintas di sekitar Selat Sunda diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekati kawasan kawah aktif dalam radius 3 kilometer. Erupsi Anak Krakatau juga menyebabkan abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah. Berdasarkan pemantauan BMKG, abu terpantau menuju sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu.

Kondisi tersebut juga berdampak pada aktivitas penerbangan. Bandara Internasional Soekarno-Hatta sempat menghentikan sementara operasional penerbangan karena adanya sebaran abu vulkanik dari erupsi Anak Krakatau. Masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu diminta menggunakan masker, mengurangi aktivitas di luar rumah, serta mengikuti informasi dari pemerintah. Warga juga diimbau tidak menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya.

Meningkatnya aktivitas beberapa gunung api ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk selalu waspada terhadap potensi bencana. Pemerintah dan petugas pemantau terus melakukan pemantauan terhadap kondisi gunung serta memberikan informasi terbaru kepada masyarakat.