OZ News
Bukan Rupiah, Beras Jadi Alat Tukar Masuk Konser Hardcore Punk di Bandung
Lewat Unacceptable: Decontrol Showcase, kolektif Unacceptable Punk mengganti tiket konser dengan beras yang dikumpulkan untuk lumbung pangan bersama.


Bandung – Di tengah tren konser yang identik dengan harga tiket yang terus meningkat, kolektif musik Unacceptable Punk menghadirkan pendekatan berbeda melalui gelaran Unacceptable: Decontrol Showcase. Ketika biasanya penonton membeli tiket dengan uang, di konser ini setiap penonton cukup membawa beras sebagai syarat masuk. Konsep tersebut tidak hanya menjadi daya tarik acara, tetapi juga menjadi bentuk nyata solidaritas sosial yang dibangun melalui musik.
Konser yang berlangsung pada 19 Juni 2026 di basement parkiran STT Tekstil Bandung ini menghadirkan sejumlah band dari skena hardcore punk Bandung, di antaranya Unacceptable Punk, BARBED WIRE!, Bottled Violent, Arogan, Egofatum, Kataliz, hingga Cheriz. Berbeda dari pertunjukan musik pada umumnya, panitia tidak membuka penjualan tiket. Sebagai gantinya, setiap pengunjung diminta membawa beras yang nantinya dikumpulkan sebagai bagian dari program lumbung pangan bersama.
Melalui pernyataan resminya, Unacceptable Punk menjelaskan bahwa penggunaan beras bukan sekadar konsep unik untuk menarik perhatian publik. Gagasan tersebut lahir dari keresahan mereka terhadap semakin kuatnya komersialisasi dalam industri hiburan.
Mereka mempertanyakan apakah musik akan terus diperlakukan sebagai komoditas yang diperjualbelikan atau masih dapat menjadi ruang untuk membangun solidaritas antar masyarakat. Berangkat dari pemikiran itu, konser ini dirancang agar setiap orang yang hadir ikut berkontribusi secara nyata melalui donasi beras.
Seluruh beras yang terkumpul akan dimanfaatkan untuk membangun lumbung pangan bersama, sebuah inisiatif yang bertujuan memperkuat budaya gotong royong di tengah masyarakat. Bagi penyelenggara, pangan dipilih karena merupakan kebutuhan dasar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga nilai solidaritas yang dibangun tidak berhenti sebagai simbol semata.
Selain menghadirkan pertunjukan musik, acara ini juga menjadi ruang untuk menyampaikan kritik terhadap budaya konsumsi yang dinilai semakin mendominasi dunia hiburan. Penyelenggara ingin mengembalikan konser sebagai tempat bertemu, berbagi gagasan, serta membangun hubungan yang lebih setara antara musisi dan penonton.
Suasana tersebut terlihat sejak awal acara. Penonton datang membawa kantong-kantong beras, bukan tiket elektronik maupun gelang masuk. Setelah seluruh beras dikumpulkan, pertunjukan berlangsung dengan atmosfer khas skena hardcore yang penuh energi, namun tetap mengedepankan semangat kebersamaan.
Konsep “tiket beras” pun mendapat respons positif dari berbagai kalangan. Di tengah meningkatnya biaya hidup dan mahalnya harga tiket konser, pendekatan yang dibawa oleh Unacceptable Punk dinilai menghadirkan alternatif bahwa musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi medium aksi sosial yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Melalui Unacceptable: Decontrol Showcase, kolektif tersebut menunjukkan bahwa sebuah konser dapat menjadi lebih dari sekadar panggung pertunjukan. Menurut mereka, musik masih memiliki ruang untuk menyatukan komunitas, membangun kepedulian, dan memperkuat solidaritas melalui aksi sederhana yang berdampak nyata.
Sumber: Instagram @unacceptable_punk & @bandungbergerak.id
